OJS untuk Jurnal Kampus: Yang Perlu Disiapkan
Open Journal Systems (OJS) adalah perangkat lunak pengelola jurnal ilmiah yang dipakai puluhan ribu jurnal di dunia. Di Indonesia ia hampir jadi standar untuk jurnal kampus, sebagian karena syarat akreditasi.
Yang sering terlewat
Kebanyakan panduan berhenti di “cara install”. Padahal yang menentukan lolos atau tidaknya akreditasi justru hal-hal setelahnya.
Domain dan keabadian tautan
Jurnal dinilai dari kesinambungan. Kalau alamatnya berpindah-pindah, tautan di artikel lama mati dan sitasi ikut hilang. Tetapkan satu domain sejak awal dan jangan mengubahnya.
Email yang bisa dipercaya
OJS mengirim banyak email otomatis — undangan reviewer, pemberitahuan penulis, pengingat. Kalau dikirim dari server sendiri tanpa konfigurasi SPF/DKIM yang benar, sebagian besar mendarat di folder spam. Reviewer yang tak pernah menerima undangan akan terlihat seperti reviewer yang mengabaikanmu.
Backup yang benar-benar diuji
Naskah yang belum terbit tak ada salinannya di tempat lain. Kehilangan database OJS berarti kehilangan seluruh proses editorial yang sedang berjalan.
Kebutuhan server
| Skala | Spesifikasi |
|---|---|
| Jurnal baru | 1 vCPU · 2 GB RAM |
| Beberapa jurnal aktif | 2 vCPU · 4 GB RAM |
OJS sendiri tidak berat. Yang membesar adalah berkas PDF naskah — siapkan ruang penyimpanan yang bisa ditambah.
Alur editorial
Sebelum memasang, sepakati dulu di tim:
- siapa yang jadi Journal Manager
- berapa tahap review dan siapa reviewernya
- bagaimana penomoran terbitan
- apakah memakai DOI (kalau ya, siapkan akun Crossref)
Menyiapkan ini setelah OJS berjalan jauh lebih merepotkan, karena sebagian pengaturan memengaruhi naskah yang sudah masuk.
Penutup
OJS bukan perangkat lunak yang sulit dipasang. Yang sulit adalah merawatnya bertahun-tahun: pembaruan versi, sertifikat, backup, dan email yang harus tetap sampai. Siapkan itu sejak awal, bukan setelah akreditasi di depan mata.